PENGARUH LABA BERSIH DAN ARUS KAS OPERASI TERHADAP KEBIJAKAN DIVIDEN PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG GO PUBLIK
ABSTRACT
This study analyzed the influence earning and cash flow from operations to the dividend policy (dividend payout ratio) of the go public’s manufacturing companies since 2005 up to 2007. This study was also intended to know which performance measures have the most significant effect to the dividend payout ratio. Data that used in this research is financial statements from each company, publized through website www.idx.co.id.
Analysis method that used in this research is kuantitatif method with multiple regression. Sampling method that used is purposive sampling. Variables that used in this research are earnings (X1) and operating cash flow (X2) as variable independent, and dividend payout ratio (Y) as variable dependent consist of the 31 firms. This research concludes that both of two independent variables have positive significant influence toward dividend payout ratio in simultan, but in parsial earnings are not influence toward dividend payout ratio, whereas operating cah flow have positive significant to the dividend payout ratio. The most significant effect was from cash flow operation regression.
Keyword: earning, operating cash flow, dividend payout ratio, multiple regression.
1. Pendahuluan
Pembiayaan merupakan salah satu fungsi perusahaan yang penting bagi keberhasilan usaha suatu perusahaan. Fungsi ini penting karena fungsi inilah yang melakukan usaha untuk mendapatkan dana untuk usahanya. Dana bisa diperoleh baik melalui pembiayaan dari dalam perusahaan (internal financing) maupun pembiayaan dari luar perusahaan (external financing). Sumber pembiayaan modal internal adalah pemanfaatan laba yang ditahan (retained earnings) sedangkan sumber pembiayaan eksternal diperoleh perusahaan dengan melakukan pinjaman kepada pihak lain atau menjual sahamnya kepada masyarakat (go public) di pasar modal.
Investor yang melakukan investasi dengan membeli saham perusahaan tentunya mengharapkan return atas investasi mereka yang dapat berupa capital gain dan dividen. Laba (income) sering dinyatakan sebagai indikasi kemampuan perusahaan membayar dividen. Tingkat pembayaran dividen perusahaan bervariasi tergantung kebijaksanaan perusahaan. Para pemegang saham tentu berharap mendapatkan dividen dalam jumlah yang besar tetapi perusahaan mempunyai pertimbangan yang logis karena perusahaan harus memikirkan kelangsungan hidup dan pertumbuhan perusahaan dimasa yang akan datang.
Perusahaan didalam operasi normalnya terkadang mempunyai laba yang besar dalam kegiatan bisnisnya selama setahun tetapi, laba tersebut tidak mencerminkan jumlah kas atau likuiditas perusahaan yang sebenarnya. Hal ini disebabkan pendapatan maupun penjualan tidak selamanya diterima berupa kas tetapi masih berupa piutang. Bagi perusahaan, informasi yang terkandung dalam dividend payout ratio (DPR) digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menetapkan jumlah pembagian dividen. Bagi para pemegang saham, akan digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi, yaitu apakah akan menanamkan dananya atau tidak pada suatu perusahaan. Beberapa perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta selama tahun 2005-2007 memberikan dividen dengan jumlah yang berbeda-beda setiap tahunnya. Fenomena yang terjadi adalah adakalanya saat laba yang diperoleh perusahaan menurun, dividen yang diberikan perusahaan justru lebih besar dari tahun sebelumnya. Berdasarkan fenomena tersebut laba yang dihasilkan bukanlah satu-satunya faktor yang dipertimbangkan pihak manajemen dalam menetapkan besarnya DPR. Ada banyak faktor yang mempengaruhi kebijakan deviden suatu perusahaan.
Lukas Setia Atmaja (1994:359) menyatakan bahwa perusahaan membayar dividen tunai dengan kas, maka perusahaan harus memiliki kas tersedia. Hermi (2004) menyatakan bahwa untuk membayar dividen suatu perusahaan harus menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi alokasi laba untuk dividen atau untuk laba ditahan. Ada faktor utama yang harus dipertimbangkan, misalnya ketersediaan kas, karena walaupun perusahaan memperoleh laba namun jika uang kas tidak mencukupi maka ada kemungkinan perusahaan memilih menahan laba tersebut untuk diinvestasikan kembali bukan diberikan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen.
Dari pernyataan-pernyataan diatas, penulis menyimpulkan bahwa dalam menetapkan kebijakan dividen, manajemen tentu sangat memperhatikan laba bersih yang dihasilkan perusahaan dan kas yang tersedia di perusahaan. Jumlah arus kas yang berasal dari aktivitas operasi merupakan indikator yang menentukan apakah kegiatan operasi perusahaan dapat menghasilkan arus kas yang cukup untuk melunasi pinjaman, memelihara kemampuan operasi perusahaan, membayar dividen dan melakukan investasi baru tanpa mengandalkan sumber pendapatan.
Peneliti ingin mengetahui informasi manakah yang lebih akurat antara laba bersih dan arus kas operasi lebih mempengaruhi perusahaan dalam menentukan ratio pembayaran dividen (DPR). Berdasarkan latar belakang masalah diatas, peneliti tertarik mengadakan penelitian dengan judul “Pengaruh Laba Bersih dan Arus Kas Operasi Terhadap Kebijakan Dividen Pada Perusahaan Manufaktur yang Go-Publik”.
2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Dividen
Stice at al (2004:902) menyatakan bahwa “dividen adalah pembagian kepada pemegang saham dari suatu perusahaan secara proporsional sesuai dengan jumlah saham yang dipegang oleh masing-masing pemilik”. Menurut Skousen et al (2001:757) ” dividen adalah pendistribusian laba secara proporsional kepada para pemegang saham sesuai dengan jumlah saham yang dimilikinya”. Besarnya dividen yang dibagikan biasanya tercermin dalam dividend payoutratio (DPR). DPR merupakan ratio hasil perbandingan antara dividen dengan laba yang tersedia bagi para pemegang saham biasa, dan secara sistematis dirumuskan sebagai berikut (Warsono, 2003:27):
2.2 Teori Kebijakan Deviden
Beberapa teori yang relevan dalam kebijakan deviden adalah smoothing theory, clientele effect theory, tax preference theory, dividend irrelevance theory, bird in the hand theory, residual theory of dividens, teori signal atau isi informasi dividen (information content of dividend).
1) Smoothing Theory
Teori ini dikembangkan oleh Lintner. Teori ini mengatakan bahwa jumlah dividen bergantung akan keuntungan perusahaan sekarang dan dividen tahun sebelumnya.
2) Clientele Effect Theory
Teori ini diungkapkan oleh Black and Scholes. Teori mengatakan bahwa kelompok (clientele) pemegang saham yang berbeda akan memiliki preferensi yang berbeda terhadap kebijaksanaan dividen perusahaan. Sebagai contoh, kelompok investor dengan tingkat pajak yang tinggi akan menghindari dividen, karena dividen mempunyai tingkat pajak yang lebih tinggi dibandingkan dengan capital gain. Menurut teori ini dividen tertentu akan menarik segmen tertentu kemudian tugas perusahaan (manajemen keuangan) adalah melayani segmen tersebut. Kebijakan dividen yang berubah-ubah akan mengacaukan efek klien tersebut, menyebabkan harga saham berubah.
3) Tax preference theory
Menurut teori ini, investor tidak terlalu menyukai dividen karena dividen tidaklah tax deductible. Teori ini merujuk kepada pengenaan pajak yang diberlakukan bagi setiap investor yang mendapat capital gain atau dividen. Pada umumnya besarnya pajak yang diberlakukan berbeda, dimana pajak untuk dividen lebih besar dibandingkan pajak untuk capital gain. Selain itu, pajak atas capital gain baru dapat dibayar jika capital gain telah direalisasi. Dengan demikian, apabila investor tidak segera merealisasikan capital gain-nya, berarti investor menunda pembayaran pajaknya. Sudah tentu present value (PV) pembayaran pajaknya akan turun. Dengan dua alasan ini (pajak lebih rendah serta dapat ditundakan) maka Litzenberger dan Ramaswarny (1979) menyatakan pandangan negatif dividen bagi value perusahaan.
4) Dividend Irrelevance Theory
Teori ini dikembangkan oleh Miller dan Modigliani dalam papernya Dividend Irrelevance Preposisition. Paper tersebut menjelaskan bahwa dalam dunia pajak, dan tidak diperhitungkannya biaya transaksi serta dalam kondisi pasar yang sempurna, maka kebijakan dividen tidak akan memberikan pengaruh apapun pada harga pasar saham tersebut. Menurut MM kebijakan dividen sebenarnya tidak relevan untuk dipersoalkan.
5) Bird inTthe Hand Theory
Teori ini mengatakan pembayaran dividen mengurangi ketidakpastian karena dividen diterima saat ini, sedangkan capital gain diterima di masa mendatang. Gordon mengemukakan bird in the hand theory yang mengatakan bahwa dengan mendapatkan dividen (a bird in the hand) adalah lebih baik daripada saldo laba (a bird in the bush) karena pada akhirnya saldo laba tersebut mungkin tidak akan pernah terwujud sebagai dividen di masa depan (it can fly away).
6) Residual Theory Of Dividens
Menurut teori dividen residual, dividen ditentukan dengan cara: a) mempertimbangkan kesempatan investasi perusahaan, b) mempertimbangkan target struktur modal perusahaan untuk menentukan besarnya modal sendiri yang dibutuhkan untuk investasi, c) memanfaatkan laba ditahan untuk memenuhi kebutuhan akan modal sendiri tersebut semaksimal mungkin dan, d) membayar dividen hanya jika ada sisa laba.
Kebijakan dividen residual dengan demikian membayarkan dividen hanya jika ada sisa kas setelah perusahaan mendanai semua usulan investasi yang mempunyai NPV (Net Present Value) positif.
7) Teori Signal atau Isi Informasi Dividen (Information Content Of Dividend)
Ada kecenderungan harga saham akan naik jika ada pengumuman kenaikan dividen, dan harga saham akan turun jika ada pengumuman penurunan dividen. Ada argumen lain yang lebih masuk akal. Dividen itu sendiri tidak menyebabkan kenaikan (penurunan) harga, tetapi prospek perusahaan, yang ditunjukkan oleh meningkatnya (menurunnya) dividen yang dibayarkan, yang menyebabkan perubahan saham. Teori tersebut kemudian dikenal sebagai teori signal atau isi informasi dividen. Menurut teori ini, dividen mempunyai kandungan informasi, yaitu prospek perusahaan di masa mendatang.
8) Agency Theory
Menurut teori ini konflik terjadi pihak-pihak yang berkaitan di perusahhan. Sebagai contoh, manajer disewa oleh pemegang saham untuk menjalankan perusahaan agar tujuan pemegang saham bisa tercapai., tetapi manajer bisa saja mempunyai agenda tersendiri yang tidak selalu konsisten dengn tujuan pemegang saham, misalnya perusahaan mempunyai kelebihan kas dengan NPV positif (free cash flow), yang didefenisikan sebagai kelebihan kas setelah semua investasi dengan NPV positif didanai). Kas tersebut akan lebih baik jika dibagikan ke pemegang saham, dan pemegang saham akan memanfaatkan kas tersebut dengan cara mererka tersendiiri.
Selain itu digunakan juga teori keuangan. Teori keuangan akan menjelaskan bagian yang akan dibagikan oleh perusahaan sebagai dividen bagi para pemegang saham.
9) Teori Keuangan
Menurut teori keuangan, dividen (atau investasi kembali) tidak sama dengan laba setelah pajak. Dalam teori keuangan, jumlah dana yang bisa dibagikan sebagai dividen bisa dinyatakan sebagai berikut:
D = E + Penyusutan – Investasi pada A.T – Penambahan M.K
Keterangan:
D = Dividen,
E = Earning After Tax (Laba Setelah Pajak),
A.T = Aktiva Tetap,
M.K = Modal kerja.
Persamaan tersebut menunjukkan bahwa dana yang bisa dibagikan sebagai dividen merupakan kelebihan dana yang diperoleh dari operasi perusahaan (yaitu E + penyusutan) diatas keperluan investasi untuk menghasilkan laba dimasa yang akan datang (yaitu investasi aktiva tetap dan modal kerja). Hanya saja, untuk menyederhanakan analisis sering diasumsikan bahwa investasi pada aktiva tetap akan diambilkan dari dana penyusutan, dan modal kerja dianggap tidak berubah (sehingga tidak perlu menambah modal kerja). Apabila asumsi ini dipergunakan, maka bisa dimengerti kalau besarnya dividen ditentukan oleh laba setelah pajak (E) dan maksimal dividen yang bisa dibagikan adalah sama dengan E. Itulah mengapa EAT digunakan sebagai ukuran jumlah maksimal dana yang dibagikan sebagai dividen.
2.3 Laba Bersih
Earning merupakan suatu ukuran berapa besar harta yang masuk (pendapatan dan keuntungan) melebihi harta yang keluar (beban dan kerugian). Pengertian laba bersih menurut kamus akuntansi cetakan kedua oleh abdullah (1993:289):
Laba bersih adalah kelebihan seluruh pendapatan atas seluruh biaya untuk suatu periode tertentu setelah dikurangi pajak penghasilan yang disajikan dalam laporan laba rugi. Para akuntan menggunakan istilah “net income” untuk menyatakan kelebihan pendapatan atas biaya dan istilah “net loss” untuk menyatakan kelebihan biaya atas pendapatan.
2.4 Arus Kas dari Aktivitas Operasi
Stice, stice, dan Skousen (2004: 320) menjelaskan berbagai aktivitas yang termasuk dalam aktivitas operasi adalah sebagai berikut:
Kas Dierima dari:
Kas dikeluarkan untuk:
1. penjualan barang atau jasa,
1. pembelian persediaan,
2. penjualan efek yang diperdagangkan,
2. gaji dan upah,
3. pendapatan bunga,
3. pajak,
4. pendapatan dividen.
4. beban bunga,
5. beban lainnya,
6. pembelian efek.
Dalam PSAK No. 2 paragraf 12 (IAI : 2002) dinyatakan bahwa jumlah arus kas yang berasal dari aktivitas operasi merupakan indikator yang menentukan apakah dari operasinya perusahaan dapat menghasilkan arus kas yang cukup untuk melunasi pinjaman, memelihara kemampuan operasi perusahaan, membayar dividen dan melakukan investasi baru tanpa mengandalkan pada sumber pandanaan dari luar. Informasi mengenai unsur tertentu arus kas historis bersama dengan informasi lain, berguna dalam memprediksi arus kas operasi masa depan.
2.5 Kerangka Konseptual dan Hipotesis
Kerangka konseptual merupakan sintesis dari tinjauan teori dan tinjauan penelitian terdahulu serta alasan-alasan logis. Adapun kerangka konseptual dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
Gambar 1
Kerangka Konseptual
Besar kecilnya dividen yang dibagikan perusahaan tergantung dari kebijakan dividen yang ditempuh oleh perusahaan. Kebijakan dividen ini tercermin dalam DPR. Dalam menentukan DPR yang akan diberikan kepada pemegang saham tentunya perusahaan akan memperhatikan laba bersih yang diperoleh perusahaan karena dividen yang dibagikan kepada pemegang saham merupakan bagian dari laba. Jika suatu perusahaan bisa memperoleh laba yang semakin besar, maka secara teoritis perusahaan akan mampu menetapkan DPR yang makin besar. Jumlah arus kas yang berasal dari aktivitas operasi perusahaan merupakan indikator yang menentukan apakah kegiatan operasi perusahaan dapat menghasilkan arus kas yang cukup untuk membayar dividen yang telah ditetapkan dalam kebijakan dividen. Semakin besar arus kas operasi perusahaan maka semakin besar DPR yang ditetapkan karena perusahaan memiliki kas untuk membayar dividen dan semakin kecil arus kas yang dihasilkan perusahaan dari aktivitas operasinya maka akan semakin kecil
2.6 Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara yang harus diuji kebenarannya atas suatu penelitian yang dilakukan agar dapat mempermudah dalam menganalisis. Hipotesis penelitian ini adalah laba bersih dan arus kas operasi berpengaruh terhadap DPR baik secara simultan maupun secara parsial.
3. Metode Penelitian
Rancangan penelitian ini adalah studi kausal, sebab tujuan penelitian berusaha menjelaskan hubungan sebab akibat dalam bentuk pengaruh antara variabel melalui pengujian hipotesis. Populasi penelitian ini adalah perusahaan Go Public yang terdaftar di BEI. Dari populasi yang ada sebanyak 151 perusahaan akan diambil 31 perusahaan sebagai anggota sampelnya yaitu perusahaan yang terdaftar di BEI pada periode 2005 sampai dengan 2007.
Sampel yang digunakan dengan menggunakan metode purposive sampling, dengan kriteria sebagai berikut:
1. perusahaan manufaktur tersebut sudah terdaftar di BEJ sebelum 1 Januari 2005,
2. perusahaan manufaktur tersebut tidak keluar (delisting) dari BEJ selama periode penelitian (2005– 2007),
3. perusahaan manufaktur tersebut telah membayar dividen pada tahun 2005-2007,
4. perusahaan manufaktur tersebut tersebut mempunyai laba bersih pada tahun 2005-2007.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan data kuantitatif, yaitu data yang diukur dalam suatu skala numerik (Kuncoro, 2003:124) dan merupakan data sekunder, yaitu data penelitian yang diperoleh secara tidak langsung dari objek penelitian (Hadi, 2006:41) yang diperoleh dari Indonesian Capital Market Directory (ICMD) 2008 dan situs Bursa Efek Indonesia.
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari variabel independen dan variabel dependen.Variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel dependen (Sugiyono, 2006:3). Dalam penelitian variabel independen terdiri dari:
a. laba bersih dihitung dari kelebihan pendapatan atas beban termasuk gains dan losses. Laba bersih diukur dengan satuan Rupiah per lembar saham,
b. arus kas operasi adalah selisih bersih antara penerimaan dan pengeluaran kas dan setara kas yang berasal dari aktivitas operasi selama 1 tahun buku, sebagaimana tercantum dalam laporan arus kas (Pradhono, 2004). Arus kas operasi diukur dengan satuan Rupiah per lembar saham.
Variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat adanya variabel bebas (Sugiyono, 2006:3). Variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini adalah DPR. DPR merupakan proporsi laba yang dibayarkan kepada pemegang saham dalam bentuk tunai selama tahun tertentu. DPR adalah persentase yang dibagi dari earning after tax. DPR dapat dirumuskan sebagai berikut (Warsono, 2003:275):
4. Metode Analisis Data
4.1 Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik yang dilakukan adalah uji normalitas data, uji multikolonieritas, uji heteroskedastisitas dan uji autokorelasi.
4.1.1 Uji Normalitas Data
Uji normalitas data bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Kalau nilai residual tidak mengikuti distribusi normal, uji statistik menjadi tidak valid untuk jumlah sampel kecil (Ghozali, 2005:110). Dari hasil uji normalitas, variabel laba bersih, arus kas operasi, dan DPR memiliki data yang tidak terdistribusi dengan normal karena nilai signifikannya < 0,05.
Untuk mengubah nilai residual agar berdistribusi normal, peneliti melakukan transformasi data ke model akar kuadrat (Sqrt) yaitu dari persamaan DPR = f(EPS, OCF) menjadi SQRT_DPR = f(SQRT_EPS, SQRT_OCF). Setelah itu, data diuji ulang berdasarkan asumsi normalitas. Oleh karena itu, dilakukan transformasi data yang tidak terdistribusi secara normal tersebut untuk menormalkannya. Caranya adalah dengan melakukan SQRT terhadap semua variabel yang tidak terdistribusi secara normal tersebut.
Tabel 1
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
4.1.2 Uji Multikolonieritas
Uji Multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antara antara variabel independen. Nilai cutoff yang umum dipakai untuk menunjukkan adanya multikolonieritas adalah nilai tolerance < 0,10 atau sama dengan nilai VIF > 10” dan untuk matrik korelasi adanya indikasi multikolonieritas dapat dilihat jika antar variabel independen ada korelasi yang cukup tinggi umumnya diatas 0,90. Dari hasil pengujian tabel 2, dapat dilihat bahwa angka tolerance pada variabel EPS (SQRT_EPS) dan OCF (SQRT_OCF) > 0,10 dan VIF-nya < 10, dan nilai matrik korelasinya dalam tabel 3 menunjukkan 0,561. Hal ini menujukkan bahwa tidak terjadi multikolinieritas di antara variabel penelitian.
Tabel 2
Tabel 3
4.1.3 Uji heteroskedasitas
Uji heteroskedasitas oleh Ghozali (2005:105) bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homoskedasitas dan jika berbeda disebut heteroskedasitas. Model regresi yang baik adalah yang homoskedasitas atau tidak terjadi heteroskedasitas. Kebanyakan data cross section mengandung situasi heteroskedasitas karena data ini menghimpun data yang mewakili berbagai ukuran (kecil, sedang, dan besar). Setelah diuji, terlihat bahwa titik-titik menyebar secara acak serta tidak membentuk pola tertentu atau tidak teratur. Hal ini mengindikasikan tidak terjadi heterokedasitas pada model regresi sehingga model regresi layak dipakai.
4.1.4 Uji Autokorelasi
Uji ini bertujuan untuk melihat apakah dalam suatu model regresi linear ada korelasi antar kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1. Berdasarkan tabel 4 maka diketahui nilai DW sebesar 1,853. Mengacu pada pendapat Santoso, Singgih (2002), bila angka DW diantara -2 sampai +2 berarti tidak terjadi autokorelasi.
Tabel 4
4.1.5 Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien determinasi (R2) menunjukkan seberapa besar variabel independen menjelaskan variabel dependennya. Nilai R2 memiliki kelemahan yaitu nilai R2 akan meningkat setiap ada penambahan satu variabel independen meskipun variabel independen tersebut tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen karena itu dalam penelitian ini digunakan angka adjusted R2. Dari tabel 4 angka adjusted R square atau koefisien determinasi adalah 0,161. Hal ini berarti 16,1% variasi atau perubahan dalam DPR dapat dijelaskan oleh variasi dari laba bersih dan arus kas operasi, sedangkan sisanya (83,9%) dijelaskan oleh sebab-sebab lain. Standar Error of Estimate (SEE) adalah 2,21340, yang mana semakin besar SEE akan membuat model regresi kurang tepat dalam memprediksi variabel dependen.
4.2 Pengujian Hipotesis
Pengujian analisis t untuk mengetahui apakah masing-masing variabel yaitu laba bersih dan arus kas operasi secara individu berpengaruh terhadap DPR. Setelah diuji dapat dilihat pada tabel 5, diambil kesimpulan yaitu:
1. Variabel EPS mempunyai angka signifikansi sebesar 0,480 dan t hitung 0,710 yang berada di bawah 0,05 dan lebih kecil dari t tabel (1,9908) yang menunjukkan bahwa EPS secara individual tidak berpengaruh terhadap DPR.
2. Variabel OCF mempunyai angka signifikansi sebesar 0,004 dan t hitung 2,976 yang berada di atas 0,05 dan lebih besar dari t tabel (2,976) yang menunjukkan bahwa OCF secara individual berpengaruh signifikan terhadap DPR.
Tabel 5
Tabel 6
ntuk
Dari uji ANOVA atau F test, diperoleh bahwa F hitung sebesar 8,562 dengan tingkat signifikansi 0,000, sedangkan F tabel sebesar 3,113792 dengan signifikansi 0,05. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa laba bersih dan arus kas operasi berpengaruh secara simultan dan signifikan terhadap DPR karena F hitung > F tabel (8,562 > 3,113792) dan signifikansi penelitian < 0,05 (0,000 < 0,05).
DPR = 21,169 + 0,000225 EPS + 0,001521 OCF+ε
Keterangan :
1) Setiap kenaikan laba bersih sebesar 1% akan diikuti oleh kenaikan DPR sebesar 0,000225 dengan asumsi variabel lain tetap,
2) Setiap kenaikan 1% pada arus kas operasi akan diikuti oleh kenaikan DPR sebesar 0,001521 dengan asumsi variabel lain tetap.
4.3 Pembahasan Hasil Penelitian
Nilai Adjusted R Square sebesar 0,161 yang berarti bahwa 16,1% variasi atau perubahan dalam harga saham dapat dijelaskan oleh variasi laba bersih dan arus kas operasi, sedangkan sisanya sebesar 83,9% dijelaskan oleh sebab-sebab lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian. Berdasarkan hasil pengujian diketahui bahwa secara parsial arus kas yang berasal dari aktivitas operasi mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap DPR yang dibagikan oleh perusahaan (0,004 < 0,005), sedangkan laba bersih yang diperoleh perusahaan tidak berpengaruh terhadap DPR perusahaan (0,480>0,005).
Hasil dari penelitian ini menunjukkan variabel laba bersih memiliki koefisien regresi bertanda positif sebesar 0,000225, artinya apabila terjadi perubahan variabel laba bersih sebesar 1% akan menaikkan DPR sebesar 0,000225 atau 0,0225 %. Arus Kas operasi juga memiliki koefisien regresi bertanda positif sebesar 0,001521, artinya apabila terjadi perubahan variabel arus kas operasi sebesar 1% akan menaikkan DPR sebesar 0,001521 atau 0,1521 %. Berdasarkan hasil penelitian ini, arus kas operasi sebagai tolak ukur yang lebih signifikan daripada laba bersih.
Dari segi teori, hasil penelitian ini mendukung teori keuangan yang menjelaskan bahwa besarnya dana yang bisa dibagikan sebagai dividen merupakan kelebihan dana yang diperoleh dari operasi perusahaan (yaitu E + penyusutan) diatas keperluan investasi untuk menghasilkan laba dimasa yang akan datang, karena hasil penelitian menunjukkan bahwa arus kas operasi berpengaruh signifikan terhadap DPR.
5. Kesimpulan dan Saran
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah dikemukakan dalam bab empat, maka kesimpulan yang dapat diambil adalah secara parsial laba bersih tidak memiliki pengaruh terhadap DPR perusahaan manufaktur go publik. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa informasi laba bersih bukanlah merupakan hal utama yang perlu diperhatikan dan dijadikan tolok ukur yang baik oleh manajemen dalam membuat keputusan untuk menentukan besarnya DPR. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian terdahulu yaitu sagala (2006) yang menghasilkan kesimpulan bahwa laba bersih berpengaruh signifikan terhadap dividen tunai.
Secara parsial arus kas operasi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap DPR perusahaan manufaktur go publik, sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam menentukan besar DPR perusahaan maka arus kas operasi dapat dijadikan salah satu tolak ukur bagi manajemen. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian terdahulu yaitu penelitian Pradhono dan Yulius (2004) dan Hermi (2004) yang menghasilkan kesimpulan bahwa arus kas operasi berpengaruh signifikan terhadap return yang diterima pemegang saham. Laba bersih dan arus kas operasi secara simultan (bersama-sama) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap DPR perusahaan manufaktur yang go publik. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hermi (2004) dan Sagala (2006).
Dari segi teori, hasil penelitian ini mendukung teori keuangan yang menjelaskan bahwa besarnya dana yang bisa dibagikan sebagai dividen merupakan kelebihan dana yang diperoleh dari operasi perusahaan (yaitu E + penyusutan) diatas keperluan investasi untuk menghasilkan laba dimasa yang akan datang karena hasil penelitian menunjukkan bahwa arus kas operasi berpengaruh signifikan terhadap DPR.
5.2 Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Keterbatasan-keterbatasan tersebut antara lain:
1. penelitian ini hanya mengambil dua buah variabel yaitu laba bersih dan arus kas operasi sebagai variabel independen, namun sebenarnya masih banyak variabel lain yang dapat mempengaruhi DPR,
2. periode pengamatan dalam penelitian ini terbatas karena hanya mencakup tahun 2005-2007,
5.3 Saran
Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti mencoba memberikan saran baik bagi pihak perusahaan, calon investor dan investor serta peneliti selanjutnya.
1. Bagi Perusahaan
Untuk meningkatkan kepercayaan pemegang saham terhadap perusahaan, maka perusahaan harus mampu menunjukkan kinerja perusahaan yang bagus dan menyampaikan informasi yang cukup kepada investor mengenai perkembangan perusahaan. Pengumuman mengenai dividen merupakan informasi penting yang harus disampaikan oleh perusahaan pada pemegang saham dan dalam menentukan besarnya DPR pihak manajemen harus memperhatikan kinerja mereka yang dapat dilihat antara lain melalui laba bersih dan arus kas operasi secara bersama-sama.
2. Bagi Investor dan Calon Investor
Untuk mengetahui kinerja perusahaan sebelum melakukan investasi sebaiknya para investor maupun calon investor mencari tahu mengenai profil perusahaan. Profil perusahaan dapat diperoleh melalui Bursa Efek Indonesia dan Instansi Pemerintah yaitu Bapepam.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Peneliti selanjutnya disarankan untuk menggunakan variabel independen seperti set kesempatan investasi, hutang perusahaan, umur perusahaan, inflasi, ukuran perusahaan dan variabel lain yang mempengaruhi DPR dan menambah tahun penelitian.
Selasa, 08 Juni 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar